Platipus tidak masuk kategori manapun dengan rapi, dan justru di situ ia bertahan.
Ketika ilmuwan Eropa pertama kali melihat spesimen platipus pada akhir abad ke-18, sebagian dari mereka mengira itu tipuan. Bertelur seperti reptil, menyusui seperti mamalia, berparuh seperti bebek, berbisa seperti ular. Tidak ada laci klasifikasi yang pas untuknya. Selama bertahun-tahun ia diperdebatkan: mamalia aneh, atau sesuatu yang lain sama sekali. Pada akhirnya ia tetap diakui sebagai mamalia, namun dengan catatan kaki yang panjang.
Saya menyebut diri saya mengidap kutukan yang serupa. Bukan dalam arti biologis, tapi dalam cara orang lain mencoba menempatkan saya di satu kotak, dan terus gagal. Hari ini menulis automasi login untuk sistem internal, besok merancang ulang tata letak dashboard supaya enak dipandang, lusa membaca peta rute dan menghitung jarak antar toko, lalu di sela-selanya menulis esai seperti ini. Tidak ada gelar tunggal yang merangkum semuanya. Kalau ditanya "kamu sebenarnya kerja di bidang apa", saya butuh dua menit hanya untuk menjawab dengan jujur.
Yang dikira cacat klasifikasi, kadang justru adalah bentuk kelangsungan hidup yang paling efisien.
Dunia kerja menyukai kategori karena kategori memudahkan pencarian. Sebuah lowongan ingin "spesialis backend", bukan "orang yang bisa apa saja secukupnya". Sebuah tim ingin tahu siapa yang harus dihubungi untuk satu masalah spesifik, bukan satu orang yang jawabannya selalu "saya bisa coba". Di sistem seperti ini, platipus terlihat seperti anomali yang merepotkan. Ia tidak muncul rapi di hasil pencarian "ahli X".
Tapi coba lihat dari sisi lain. Platipus bertahan hidup di sungai dangkal yang dingin dengan cara mendeteksi medan listrik dari gerakan otot mangsanya, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki mamalia lain manapun. Ia tidak unggul karena memenuhi satu definisi dengan sempurna, ia unggul karena menggabungkan beberapa sistem sensorik yang masing-masing biasa, menjadi satu cara berburu yang tidak ada duanya. Keunggulannya lahir tepat dari titik silang yang membuatnya sulit dikategorikan.
Begitu juga dengan keterampilan lintas bidang. Orang yang hanya bisa menulis kode, tidak akan tahu bagaimana memperbaiki tata letak agar enak dibaca oleh kurir yang kelelahan di lapangan. Orang yang hanya jago desain, tidak akan tahu logika di balik mengapa satu rute pengiriman lebih efisien dari yang lain. Nilai sebenarnya muncul ketika satu orang bisa berdiri di titik silang itu, menerjemahkan satu bidang ke bidang lain tanpa kehilangan sesuatu di tengah jalan.
Saya tidak lagi mencoba meyakinkan diri bahwa suatu hari saya akan "menemukan satu fokus" dan akhirnya cocok di satu kotak. Saya curiga itu tidak akan pernah terjadi, dan saya mulai berdamai dengan itu. Kutukan ini, kalau memang harus disebut kutukan, adalah bentuk bertahan hidup yang saya pilih sendiri. Saya lebih suka menjadi sesuatu yang sulit dikategorikan tapi sulit digantikan, daripada mudah dilabeli tapi mudah ditukar dengan yang lain.
Platipus tidak pernah meminta maaf karena tidak cocok dengan taksonomi yang ada. Ia hanya terus berenang, mendeteksi medan listrik di air gelap, dan membiarkan ilmuwan berdebat soal namanya.